Well, saya harus menjalani adaptasi dengan keadaan yang ada setelah satu tahun menjalani rute riding kosan-kampus selama berada di Surabaya. Kali ini, jalan yang kecil, macet, dan tentu saja, belokan-belokan tajam hadir menemani saya ketika riding bersama si mustang di kota Bandung, Paris Van Java.

Tahun ini akan dialami bukan tanpa target. sebagai mahasiswa teknik mesin dan penggemar  balap otomotif, saya bertekad untuk mencatatkan lap time yang lebih baik di sirkuit gerymang subang (terakhir 1:25). Tentu, target tersebut disusun lewat planning yang didasari dari evaluasi riding terakhir satu tahun yang lalu di tempat yang sama.

Kesempatan pertama datang pada tanggal 22 juni 2016 ketika Supermoto Bandung mengadakan trackday bersama. Saya diundang oleh salah satu rekan dari Supermoto Bandung untuk ikut bergabung. Awalnya sih ngga mau ikut karena lagi shaum. But, akhirnya saya ikut juga karena kalimat ini bergeming dari otak saya.

“because beautiful things lies outside of your comfort zone”

Oke, budhal.

<>

Gear Prepare and Warming Up Session

Ada rasa yang berbeda *ceilah* ketika pake sarung tangan, jaket, celana dan sepatu balap. Dulu, waktu masih pake jaket dan sarung tangan balap saja, pergerakan badan masih bisa fleksibel. Beda dengan keadaan sekarang, badan terasa lebih rigid sehingga agak sulit untuk bergerak.

Untuk setingan sih sebenarnya tidak terlalu berda dengan waktu di Surabaya. CO diganti ke angka 9. Selang rem depan dan belakang diganti dengan tipe racing merk TDR, lalu dilakukan bleeding supaya main remnya nanti lebih enak.  Kemudian, tekanan ban dikurangi (sebenernya sih gara-gara kempes) dengan harapan ban akan lebih nempel ke aspal meskipun compundnya medium (ban standard).

editan

<>

Free Practice Session

Stopwatch HP disetel, si Mustang turun ke sirkuit. Somethings different, penggunaan safety gear kali ini membuat  saya tidak mengalami unstable ketika berbelok. Selain itu, grip ban saat awal pertama masuk sirkuit terasa lebih enak, langsung nempel sama jalan.

Pengaruh aspal? Saya juga ngga tahu, dan tetap melakukan warming up selama 2 putaran. Karena feelingnya terasa makin enak, si Mustang dibawa tanpa ragu, berani main geber sampai rpm tinggi supaya stay di max HP sehingga probabilitas untuk mendapatkan lap time yang bagus semakin besar.

Ngeeeng… Ngeeeng…

Handle gas ditarik lebih dalam, jarum RPM menunjukkan angka 11, si Mustang berteriak. Belokan antar belokan dilahap dengan kecepatan yang lebih tinggi dari free practice sebelumnya. Tidak lupa badan ini merebah sejauh mungkin ketika fotografer motretbikers project mengarahkan kameranya kepada saya he..he..he..

Screenshot_2016-06-24-22-49-48

5 lap selesai dengan best time (1:19). Saya ngga nyangka bisa mengikis lap time 6 detik dari free practice sebelumnya (1:25). Sambil istirahat, saya berdiskusi dengan teman seperjuangan  (yang punya waktu lebih banyak buat latihan) untuk mencari evaluasi yang harus dibenahi supaya lap time nya semakin baik. Untuk sementara ini, tercatat satu evaluasi, in-out di R terakhir terlalu lama, seharusnya masih bisa dipercepat (maklum, R itu yang dulu bikin ane trauma).

Pasca istirahat, saya kembali masuk ke sirkuit. Kali ini saya mencoba untuk merapihkan racing line, khususnya proses in-out di R terakhir. Selain itu, saya juga mencoba untuk menjaga torsi maksimal dengan cara tidak memindahkan gigi (stay di gigi 2) sehingga putaran mesin berada di RPM tinggi.

Hasilnya cukup memuaskan, sesi 5 lap kali ini mencatatkan best time (1:16). 3 detik lebih cepat dari sesi sebelumnya dan 9 detik lebih cepat dari free practice terakhir.

_20160623_220654

 

Senyum gembira pun muncul karena saya bisa mengikis lap time cukup banyak. Hal ini tidak lepas dari analisa setingan dan penggunaan part yang tepat. Ini juga menjadi pelajaran, pengalaman dan pengingat bahwa planning dan survey (apparel,part, dll) merupakan proses yang penting agar hasil yang didapatkan bisa optimal dan maksimal, tentu dengan biaya yang tepat.

“kapasitas hanyalah sebuah angka tetap sementara kapabilitas adalah kemampuan untuk memaksimalkan hasil dari sebuah kapasitas.”

<>

Penutup

Btw, tulisan ini saya dedikasikan kepada 3 pihak yaitu Valentino Rossi yang terus berusaha melesat dari terakhir saat gp catalunya di tahun 2015, Keluarga M55 Alm. Haditya Zhulkarnain yang berjuang untuk melindungi adiknya hingga nafas terakhir dan ITS team Sapuangin yang terus berjuang untuk membangun kembali mobilnya pasca kecelakaan.

Dari mereka saya belajar bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling cepat dalam mencapai garis finish, terkadang ia ditentukan oleh bagaimana seseorang menjalani proses hingga ia mencapai garis finish.

Kalian memang tidak mencapai garis finish duluan, tapi kalian menggoreskan inspirasi bagi kita semua mengenai terhormatnya proses berjuang untuk membela hal yang kita banggakan.

Untuk kalian semua, saya ucapkan terima kasih. Saya akan berjuang untuk menjadi lebih cepat lagi!

Advertisements