Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kita sering mendengar bahwa Indonesia masuk kedalam lima Negara dengan penduduk terpadat di dunia. Hal tersebut menyebabkan naiknya kebutuhan transportasi sebagai penunjang mobilitas masyarakat Indonesia. Naiknya kebutuhan transportasi akan menyebabkan peningkatan polusi, baik itu polusi udara maupun suara.

Melihat problem diatas, para cendikiawan Indonesia berusaha untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. Dan, usaha mereka membuahkan hasil, Mobil Listrik. Tapi sayang, berdasarkan berita yang beredar beberapa pekan kemarin, mobil listrik karya anak bangsa tersebut dinyatakan tidak lulus uji emisi.

gagal

<>

Banyak media-media dan blog yang telah membahas rasionalitas dari berita tersebut. Terlepas dari hal tersebut, saya ingin membahas suatu hal yaitu—penting kah Indonesia mengembangkan teknologi mobil listrik?

Spesifikasi

Yang saya ketahui, mobil listrik yang dikembangkan di Indonesia memiliki daya sebesar 182 HP. Mobil ini dapat melaju sejauh 250 km hingga baterainya habis dan perlu waktu sebanyak 4 jam untuk mengisi baterai tersebut hingga penuh. Riset mobil listrik ini menghabiskan dana sekitar 2 miliar rupiah (dikutip dari http://bit.ly/1HrabGs).

Selo, Mobil Listrik dengan daya 182 HP
Selo, Mobil Listrik dengan daya 182 HP

Kendala

Berdasarkan spesifikasi diatas, hal-hal yang mungkin menjadi kendala adalah :

  • Waktu yang diperlukan untuk mengisi baterai
  • Harga riset atau harga jual yang dinilai mahal

“Lho, katanya ngga lulus uji emisi, kok ngga ada kendala yang berhubungan dengan emisi?”

Memang benar, secara subjektif, saya pun tidak setuju apabila mobil listrik ini dinyatakan tidak lulus uji emisi. Kenapa? Karena mobil listrik tidak menghasilkan gas buang yang notabene menjadi parameter dari uji emisi.

Analisis

Mari kita bahas permasalahan diatas, dimulai dari masalah waktu pengisian baterai.

Berdasarkan artikel dari kementrian ESDM, ternyata Indonesia memiliki potensi energi surya yang cukup besar (lengkapnya bisa dibaca di : http://bit.ly/1HoWeZs). Hal ini menunjukkan bahwa energi surya di Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai optimasi pengisian baterai mobil listrik.

Sumbernya ada, terus mau diisi dimana baterainya?

Mari kita melirik sebentar keluar, melihat Negara-negara yang juga mengembangkan mobil listrik. Diluar sana, mereka menggunakan area parkir sebagai tempat pengisian baterai. Tempat parkir didesain memiliki atap yang diisi oleh solar cell sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan waktu pengisian yang lama, karena ketika selesai beraktivitas, mobil listrik akan kembali pada keadaan yang prima. Saya pikir, hal ini juga bisa diterapkan di Indonesia kok.

Tempat Parkir Mobil Listrik
Tempat Parkir Mobil Listrik dengan Atap Solar Cell

Wah, kayanya mahal nih kalau diaplikasikan di Indonesia

Agreed, mantan presiden Habibie pun pernah berkata bahwa tidak ada pengembangan teknologi yang secara nominal dikatakan murah. Tapi, ada satu hal yang harus diperhatikan, yaitu rasio antara biaya yang dikeluarkan serta manfaat yang dihasilkan bagi kemajuan bangsa.

Dalam buku Toyota Leaders yang ditulis oleh Masaaki Sato, dikatakan bahwa untuk menggapai kesuksesan, Toyota tidak didirikan dalam semalam, butuh proses yang lama dan usaha yang besar untuk membawa Toyota sampai menjadi produsen mobil jepang yang sukses hingga saat ini. Sama halnya dengan hal tersebut, menurut saya, harus ada inisiasi, pembiasaan dan usaha yang lebih apabila Indonesia ingin menjadi Negara yang maju.

Lagipula, sepertinya dana yang diajukan untuk riset mobil listrik jauh lebih bermakna dibandingkan dana untuk aspirasi (Nominalnya bisa dilihat disini http://bit.ly/1BUlLY8) yang sepertinya tidak akan menghasilkan dampak yang signifikan.

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak bermaksud untuk menjatuhkan pihak lain. Saya berharap semoga tulisan ini dapat menjadi manfaat bagi kita, menjadi baut dari mobil yang akan melaju ke “Indonesia sebagai Negara yang maju dan Sejahtera”.

Wallahu A’lam Bish-Shawab

Advertisements