Assalamualaikum Wr.Wb

Pada tulisan sebelumnya, saya pernah membahas kenapa Nightfury terpilih sebagai motor pengganti si capung (Baca lengkapnya disini : https://ahmadhilman28.wordpress.com/2014/11/05/rise-of-the-nighfury/). Uniknya, satu bulan setelah tulisan tersebut di publish, adik saya mengirim gambar Yamaha R25, yang pada tulisan tersebut menjadi kompetitor R15 (Nightfury).

 R25_1

Semejak itu, rasa penasaran untuk segera menjajal si R25 ini terus timbul. Bagaimana tidak, dari 2011 saya selalu menantikan Yamaha mengeluarkan sport bike di kelas 250cc. Selain itu, beredar rumor bahwa Yamaha R25 ini merupakan the fastest bike on his class. Selalu terbayang bagaimana saya berada dalam kemudi, merasakan bagaimana feel dari si baby R1.

Akhirnya, pada Desember 2014, rasa penasaran itu hilang, i ride that bike for the first time. Tidak ragu-ragu, langsung saya bawa motor tersebut ke Lembang bersama dengan teman-teman saya yang memakai motor 250cc lainnya.

R25_4

First Ride

Karena masih dalam masa inrayen, awalnya motor ini saya bawa dengan sangat hati-hati. Dalam manual book, rider dilarang memindahkan gigi diatas rpm 7000, hal ini sangat menyiksa saya karena membuat saya karagok dalam mengeksplor performa dari motor ini. Tertinggal oleh teman-teman membuat saya tidak peduli dengan inrayen, saya geber R25 ini hingga rpm 11.000 (jangan ditiru ya).

Ada beberapa hal yang saya rasakan pada first ride ini. Untuk kelas 250cc, motor ini tidak terlalu berat di rpm bawah, hanya terasa belum smooth (mungkin karena first ride). Tapi, motor ini jadi beringas ketika digeber diatas rpm 7.000

First time cornering, Lembang, tanpa knee pad. Direkam oleh Go Pro @rashifanbia
First time cornering, Lembang, tanpa knee pad. Direkam oleh Go Pro @rashifanbia

Second Ride

Masa inrayen lewat, Pada awal tahun 2015, R25 ini saya bawa ke dealer untuk diservis. Tidak banyak yang berubah, standar KSG saja (kupon servis gratis). Diluar itu saya cuma minta ke mekaniknya supaya si shock breaker depan diturunkan sebesar 3cm.

Waduk Cirata, Purwakarta, tempat kedua yang jadi pilihan buat ngetes si R25. Di second ride ini, performa R25 jauh lebih baik dari first ride. Distribusi power terasa lebih linear baik di rpm bawah maupun atas sehingga motor ini jauh lebih mantap untuk dikendarai.

Beringas, satu kata yang menggambarkan situasi di second ride ini. Baik saya maupun teman saya tidak ragu untuk membuka gas sampai batas maksimal. Bagi saya yang newbie, adrenalin ini serasa terus terpacu selama perjalanan. Jarum rpm dan angka speedometer terasa naik jauh lebih cepat dari biasanya, bahkan saya tak percaya tikungan dilibas di kecepatan 90 km/h.

Meski demikian, saya masih penasaran karena R25 ini belum dipacu sampai batas maksimal, belum mencapai red line (rpm 14.000) dan gigi enam. Kebetulan, di waduk Cirata ini terdapat satu jalan lurus yang panjang, saya putuskan untuk mencobanya supaya penasaran ini hilang.

Di video tersebut, saya pacu R25 di gigi 3 rpm 13.000 dengan kecepatan 120 km/h. Memang belum maksimal tapi bagi saya, hal itu sudah bikin deg-degan ngga karuan.

Satu hal lagi buat si R25 ini yang belum kepikiran, nama. Sebelumnya, si capung diambil karena menurut adik saya spionnya mirip kaya capung. Nightfury diambil karena R15 ini persis kaya Nightfury di How to Train Your Dragon.

Akhirnya, terpilihlah satu nama, Red Mustang. Mustang merupakan nama jenis kuda, sinonim dengan nama lain dari sepeda motor, kuda besi. Kedua, nama tersebut terinspirasi dari mobil Ford Mustang GT yang punya karakter persis dengan R25, sama-sama memiliki power yang luar biasa.

Let’s see what you’ve got, Red Mustang!

R25_3

Advertisements